Kepala Desa Karangrejo AKHMAD KUWOSO

RANGKAIAN ACARA SEDEKAH BUMI DESA KARANGREJO

(Selamatan, Sesedekahan dan HUT RI ke-72)

Sedekah Bumi adalah semacam upacara atau jenis kegiatan yang intinya untuk mengingat kepada Sang Pencipta, Allah SWT, yang telah memberikan rahmatNYA kepada manusia di muka bumi ini, khususnya kepada kelompok petani yang hidupnya bertopang pada hasil bumi. Di perdesaan, atau pinggiran kota, yang masyarakatnya hidup dari bertani (palawija, bukan padi) biasanya melakukan kegiatan sedekah bumi. Mereka percaya bahwa dengan bersyukur maka Allah SWT akan menambah kenikmatan-kenikmatan lagi, Allah akan menyuburkan tanah mereka, Allah akan menambah hasil panen mereka, dan Allah akan menghilangkan “paceklik” pada hasil bumi mereka.

Selamatan Apitan/Sedekah Bumi Desa Karangrejo

Berdasarkan adat-istiadat warga desa ,Sedekah bumi adalah suatu upacara adat yang melambangkan rasa syukur manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rezeki melalui bumiberupa segala bentuk hasil bumi. Upacara ini sebenarnya sangat populer di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

Maka dari itu, masyarakat dengan sadar dan penuh semangat melakukan kegiatan ritual ini, meskipun dengan cara yang sederhana. Biasanya mereka melakukan dengan cara “pamer” hasil bumi, yaitu karnaval keliling desa dengan mengarak hasil bumi, ada ketela pohong, mangga, durian, jagung, ketimun, petai, dsb, tergantung dari hasil bumi non padi yang mereka peroleh dari bumi yang mereka tanami.

Tetapi, seiring dengan perkembangan jaman, lokasi di pinggiran kota Demak dan sekitar Desa Karangrejo, kebanyakan sudah berubah menjadi daerah sub-urban, banyak ladang yang berubah jadi permukiman, maka yang diarak pun sudah bukan hasil bumi tetapi berupa “nasi tumpeng”. Lebih tepatnya nasi wakul yang dibawa warga sebagai berkatan untuk sedekahan.

Setelah mengarak keliling desa, mereka kemudian makan bersama, dan dilanjutkan dengan berbagai pagelaran kebudayaan. Gelar budaya tsb’ biasanya mengandung banyak petuah, banyak nasehat untuk menjadi manusia yang utama. Kita diingatkan untuk jangan berbuat jahat, jangan serakah, orang yang berbuat baik pasti akhirnya akan berjaya. Itulah kegiatan sedekah bumi yang masih berlangsung di beberapa daerah, yang salah satunya di desa kita yaitu Karangrejo.

Sedekah Bumi kadang disebut juga sebagai acara APITAN. Sebab acara sedekah bumi biasanya dilaksanakan pada bulan APIT, yaitu bulan diantara dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha, apit artinya terjepit, terjepit diantara dua hari raya). Sebagaimana halal bihalal yang dilakukan pada bulan Syawal, orang Jawa ada yang menyebutnya sebagai acara Syawalan, demikian pula Sedekah Bumi karena dilaksanakan bulan Hapit, maka disebut APITAN atau HAPITAN.

Persiapan “Nyiwer Desa”

Perlu kita ketahui bersama, acara tersebut sebenarnya merupakan acara yang sifatnya “nguri-uri budaya tradisi Jawa”, akan tetapi seiring dengan perubahan jaman, karena orang kota sudah tidak lagi hidup dari hasil bumi, maka acara tersebut lama kelamaan akan tergerus proses urbanisasi, akan hilang ditelan masa. Harus ada cara dan semangat tinggi untuk segera mengaktualisasikan budaya atau tradisi ini agar tidak hilang begitu saja, Yang tua harus mulai sadar, bahwa anak-anaknya sekarang menjadi pegawai (orang kantoran), yang muda juga harus mengerti bahwa itu tradisi nenek-moyang mereka yang masih di pelihara dan dijaga olah orang-orang tua. Agar kedua belah generasi ini tidak saling menyalahkan dan tidak akan timbul friksi dikemudian hari, perlu kiranya para budayawan berkiprah dan berfikir untuk mengaktualisasikan upacara sedekah bumi dalam konteks wilayah yang sudah menjadi sub-urban atau bahkan sudah urban.

Adapun rangkaian acara Sedekah Bumi atau Apitan dan HUT RI ke-72 di Desa Karangrejo, antara lain :
1. Tanggal 09 Agustus 2017, diawali dengan Ziarah kubur di makam tetua / mantan Kepala Desa yang terdahulu dilanjutkan selamatan. Yang dihadiri oleh Perangkat Desa, Pengurus BPD, Ketua RT RW se- Karangrejo dan tokoh masyarakat.

  1. Tanggal 10 Agustus 2017, jam 13.00 wib acara ritual “nyiwer desa” yang dilakukan secara simbolis malamnya diisi dengan Pengajian Umum yang dibawakan oleh KH. Abdul Khamid dari Tangguungharjo Grobogan.
  2. Tanggal 13 Agustus 2017, untuk memperingati HUT RI diadakan Sepeda santai, lomba pertandingan bulutangkis, tenis meja, dan aneka lomba rakyat ( balap karung, makan krupuk, Pukul kendil dan lomba kelereng)

Rangkaian kegiatan tsb merupakan bentuk rasa syukur masyarakat Desa Karangrejo. Selain itu juga mendoakan orang yang dituakan di desa ini, seperti mendoakan Mbah Abdurrohman, Eyang Darmosuto dan kepala desa serta perangkat yang telah meninggal dunia. Untuk acara tsb dilakukan saat acara selametan yang diisi tausiyah.  dipimpin K. Ahmad Hamdan

Semua rangkaian acara diselenggarakan di Halaman Rumah Kepala Desa dan Balai Desa Karangrejo.

(Sumber oleh Zaens)

 

Tinggalkan Balasan