POSYANDU SAAT PANDEMI COVID-19

KATA PENGANTARDIREKTUR JENDERAL PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT

        Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas berkah dan karuniaNya, Buku Petunjuk Teknis Pelayanan Imunisasi pada Masa Pandemi COVID-19 dapat selesai disusun. Imunisasi merupakan upaya yang paling efektif untuk memberikan kekebalan/imunitas spesifik terhadap Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), sejarah telah mencatat bahwa semenjak ditemukannya vaksin, jutaan anak di seluruh dunia dapat diselamatkan dari kematian akibat PD3I, bahkan beberapa penyakit sudah berhasil dieradikasi dimuka bumi. Disaat terjadi pandemi seperti sekarang ini, masyarakat berharap vaksin dapat segera tersedia dan para ahli di seluruh dunia seakan berlomba-lomba menemukan vaksinnya. Tapi tentu saja kita maklum bahwa proses pengembangan vaksin membutuhkan waktu yang cukup lama. Di sisi lain, ketika beban penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi sudah mulai berkurang seringkali masyarakat melupakan atau bahkan menghindar dari program imunisasi. Pemerintah telah menetapkan Coronavirus Disease2019 (COVID-19) sebagai bencana non-alam berupa wabah/ pandemik, penetapan ini diikuti dengan upaya-upaya pencegahan penyebaran virus corona melalui pembatasan sosial antara lain pembatasan kerumunan orang, pembatasan perjalanan,pemberlakuan isolasi, penundaan dan pembatalan acara, serta penutupan fasilitas dan pengaturan pelayanan publik. Kondisi ini turut berpengaruh terhadap jadwal dan tata cara pelayanan imunisasi baik di posyandu, puskesmas maupun di fasilitas kesehatan lainnya termasuk swasta. Sejumlah orangtua khawatir untuk memberikan imunisasi bagi anaknya, dan tidak sedikit pula petugas kesehatan ragu-ragu dalam menyelenggarakan pelayanan imunisasidi tengah pandemi COVID-19, bisa jadi disebabkan ketidaktahuan atau karena belum adanya petunjuk teknis yang tersedia. Kalau kondisi ini terus dibiarkan, maka cakupan imunisasi nasional akan turun, sehingga kekebalan komunitas tidak terbentuk lagi dan pada akhirnya cakupan imunisasi yang rendah ini bisa menyebabkan terjadinya KLB PD3I seperti Campak, Rubela, Difteri, Polio dan lainnya. Tentunya ini akan menjadi beban ganda bagi masyarakat dan negara di tengah pandemi COVID-19 yang masih berlangsung.

            Kita tidak ingin hal tersebut terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini, untuk itu saya tegaskan imunisasi tidak boleh dihentikan meskipundi tengah pandemiCOVID-19, Imunisasirutin harus tetap diberikan, tentunya dengan memperhatikan prinsip Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI). Sebagai tindak lanjut Surat Edaran Dirjen P2P Nomor SR.02.06/4/1332/2020 tanggal 24 Maret 2020 tentang Pelayanan Imunisasi Pada Anak selama masa Pandemi Corona Virus Disease2019, saya 3Petunjuk Teknis Pelayanan Imunisasi pada Masa Pandemi COVID-19 menyambut baik disusunnya Petunjuk Teknis Pelayanan Imunisasi pada Masa Pandemi COVID-19, Juknis ini akan menjadi acuan bagi petugas kesehatan dilapangan, sehingga keragu-raguan petugas dan masyarakat akibat tidak adanya pedoman dalam pelayanan imunisasi di tengah pandemi COVID-19 tidak lagi dijadikan alasan adanya anak yang tidak di imunisasi. Akhir kata, saya ucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada seluruh pejuang imunisasi di seluruh Indonesia atas dedikasi dan pengabdiannya dalam melaksanakan pelayanan imunisasi di tengah pandemi COVID-19. Semoga Allah SWT senantiasa menaungi langkah kita semua untuk dapat bersama-sama berkontribusi optimal dalam menyehatkan anak Indonesia.

Jakarta, Mei 2020

Direktur Jenderal

dr. Achmad Yurianto

BEBERAPA ISTILAH KESEHATAN SAAT PANDEMI

Auto Disable Syringe       :   Alat suntik sekali pakai untuk pelayanan imunisasi

Cold box                         :   Alat untuk menyimpan sementara dan membawa vaksin

Cool pack                        :   Wadah plastik berbentuk segiempat yang diisi dengan air kemudiaan didinginkan dalam vaccine refrigeratordengan suhu -3ºC  s/d +2ºC  selama  minimal 12jam(dekat evaporator)

Defaulter tracking           :  Metode  tentang  pelacakandan  penjangkauanbayi  dan baduta yang tidak/belum lengkap status imunisasinya

Disinfektan                     :   Bahan kimia yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi  atau  pencemaran  jasad  renik  atau  obat  untuk membasmi kuman penyakit

Face shield                     :   Alat pelindung wajah

Hand sanitizer                :   Pembersih tangan yang memiliki kemampuan antibakteriatau  antivirusdalam  menghambat  hingga  membunuh bakteri/virus yang mengandung alkoholminimal 70%

Herd immunity               :   Konsep  epidemiologis  yang  menggambarkan  kondisi  saat sejumlah    orang    dalam    populasi    memiliki    cukup kekebalan terhadap suatu penyakit (kekebalan kelompok)

Imunisasi                       :   Suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan    seseorang    secara aktif    terhadap    suatu penyakit,   sehingga   bila   suatu   saat   terpajan   dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan.

KIPI                             :   Kejadian   Ikutan   Pasca   Imunisasi   yang   selanjutnya disingkat   KIPI   adalahkejadian   medik   yang didugaberhubungan dengan imunisasi.

Pakaian Hazmat              :  Pakaian hazmat (hazmat adalah singkatan dari hazardous materialsatau   bahan –bahan   berbahaya),   adalah perlengkapan   perlindungan   pribadi   yang   terdiri   dari bahan  yang  impermeabel  dan  digunakan  untuk  proteksi melawan material berbahaya

Pandemi                         :   Wabah yang berjangkit serempak dimana –mana meliputi daerah  geografis  yang  luas  atau  ketika  sebuah  epidemi

BAB I  PENDAHULUAN

1.1LATAR BELAKANG

Imunisasi merupakan upaya kesehatan masyarakat paling efektif dan efisien dalam mencegah beberapa penyakit berbahaya. Sejarah telah mencatat besarnya peranan imunisasi dalam menyelamatkan masyarakat dunia dari kesakitan, kecacatan bahkan kematian akibat penyakit-penyakit seperti Cacar, Polio, Tuberkulosis, Hepatitis B yang dapat berakibat pada kanker hati, Difteri, Campak, Rubela dan Sindrom Kecacatan Bawaan Akibat Rubela (Congenital Rubella Syndrom/CRS), Tetanus pada ibu hamil dan bayi baru lahir, Pneumonia (radang paru), Meningitis (radang selaput otak), hingga Kanker Serviks yang disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus.

Dalam imunisasi terdapat konsep Herd Immunityatau Kekebalan Kelompok. Kekebalan Kelompok ini hanya dapat terbentuk apabila cakupan imunisasi pada sasaran tinggi dan merata di seluruh wilayah. Kebalnya sebagian besar sasaran ini secara tidak langsung akan turut memberikan perlindungan bagi kelompok usia lainnya, sehingga bila ada satu atau sejumlah kasus Penyakit-penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) di masyarakat maka penyakit tersebut tidak akan menyebar dengan cepat dan Kejadian Luar Biasa(KLB)dapat dicegah. Konsep ini merupakan bukti bahwa program imunisasi sangat efektif juga efisien karena hanya dengan menyasar kelompok rentan maka seluruh masyarakat akan dapat terlindungi.

Dari sisi ekonomi, upayapencegahan penyakit sejatinya akan jauh lebih hemat biaya, bila dibandingkan dengan upaya pengobatan. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)sebagian besarnya merupakan penyakit-penyakit yang bila sudah menginfeksi seseorang maka akan membutuhkan biaya pengobatan dan perawatan yang cukup tinggi yang tentunya akan membebani negara, masyarakat serta keluarga. Biaya yang dikeluarkan untuk program imunisasi sangat jauh lebih rendah dibandingkan total potensi biaya yang harus dikeluarkan bila masyarakat terkena PD3I. Masa pandemi COVID-19 yang telah menjangkiti sebagian besar negara pun hendaknya tidak menyurutkan semangat tenaga kesehatan untuk tetap menggaungkan pentingnya imunisasi dan melakukan langkah-langkah penting untuk memastikan setiap anak yang merupakan kelompok rentan terlindungi dari penyakit-penyakit berbahaya dengan imunisasi.

Dalam masapandemi COVID-19 ini,imunisasi tetap harus diupayakan lengkap sesuai jadwal untuk melindungi anak dari PD3I.Pelayanan imunisasipada masa pandemi COVID-19 dilaksanakan sesuai kebijakan pemerintah daerah setempat, berdasarkan analisis situasi epidemiologi penyebaran COVID-19,cakupan imunisasi rutin, dan situasi epidemiologi PD3I. Pelayanan imunisasi dilaksanakan sesuai prinsip PencegahandanPengendalianInfeksi(PPI)danmenjaga jarak aman 1 –2 meter. Dinas kesehatan harus berkoordinasi dan melakukan advokasi kepada pemerintah daerah setempat dalam pelayanan imunisasi pada masa pandemi COVID-19. Selain itu,petugas kesehatan diharapkan dapatmemantau status imunisasi setiap sasaran yang ada di wilayah kerjanya.